| Palapa Ring, Jalan Tol Informasi |
|
|
| Written by Adie Marzuki |
|
Mungkin banyak warga Jakarta yang ingat, terutama yang rajin mengunjungi Bandung, masa sebelum ada tol Cipularang. Pada saat itu, orang yang memiliki keperluan ke Bandung umumnya akan menjadwal atau mengalokasikan suatu waktu senggang yang panjang. Setelah tol Cipularang dibuka, pergi ke Bandung bagi banyak warga Jakarta adalah suatu kegiatan yang “dapat disisipkan” disela rutinitas umumnya. Efek yang timbul dari adanya tol Cipularang juga terasa imbasnya sampai ke berbagai sektor bisnis. Dari maraknya bisnis travel bus, losmen, hotel, sampai ke industry garmen, percetakan, dan lainnya. Dengan mudah terlihat, tingginya peningkatan pendapatan daerah akibat adanya jalan bebas hambatan tersebut. Yang pasti, peningkatan tersebut cukup signifikan sampai muncul ide untuk membuat tol lintas pulau dari Jawa ke Sumatera. Kira-kira seperti itulah ilustrasi yang menggambarkan manfaat suatu fasilitas yang dapat memotong waktu tempuh. Saat ini, dimana arus informasi dan komunikasi begitu dominan dalam menentukan kemajuan, “jalan tol” seperti itu sudah merupakan keharusan. Apalagi di Indonesia, negeri dengan sebaran 220 juta penduduk di ribuan pulau dalam bentang ribuan kilometer. Saat ini, hal yang sudah umum bagi warga di pulau Jawa atau Sumatera, belum tentu pernah terdengar di bagian lain Indonesia. Tapi dalam tempo kurang lebih setahun kedepan, hal tersebut sudah bukan masalah lagi. Jalan tol bagi arus informasi ke seluruh pelosok negeri telah mulai dibangun. Yaitu berupa proyek pembangunan jaringan backbone serat optik nasional, yang akan menjangkau 33 propinsi dan 440 kota di seluruh Indonesia. Jaringan berkualitas handal dan berkapasitas besar ini di sebut Palapa Ring. Total nilai proyek ini mencapai Rp. 2.346 triliun rupiah. Tahapan awal yang telah dimulai adalah pembangunan jaringan Palapa Ring di Indonesia Bagian Timur. Kemudian akan dilakukan penyambungan ke seluruh desa disekitarnya melalui proyek Universal Service Obligation (USO) sebagai “jalan arteri”. Setelah di integrasikan ke jaringan yang sudah ada di Indonesia Bagian Barat, maka yang mula-mula akan dilakukan adalah penambahan SLI dan merestruktur tarif yang berlaku. Tentunya akan menjadi semakin terjangkau bagi segenap lapisan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh terjadinya efisiensi investasi akibat adanya fasilitas infrastruktur Palapa Ring tersebut. Efek berikutnya, seperti yang terjadi setelah tol Cipularang dibangun, juga tentunya akan dialami banyak daerah di Indonesia. Tentu kemudian dapat diharapkan bertumbuhnya varian jasa telekomunikasi dan aplikasinya di seluruh pelosok negeri. Tetapi hal tersebut tidak semudah seperti mengucapkannya. Beberapa tahapan yang harus dilewati membutuhkan peran serta segenap lapisan masyarakat. Contohnya, memasyarakatkan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) itu sendiri. Adanya Palapa Ring ini menjamin ketersediaan layanan telekomunikasi dari voice hingga broadband sampai seluruh kabupaten di Indonesia. Untuk membuat investasi ini efisien, harus segera dilakukan pemanfaatan TIK secara meluas dan optimal. Palapa Ring dapat memicu percepatan pengembangan potensi ekonomi di tiap wilayah, namun, jika program pemanfaatan secara nasional tidak segera dilakukan, maka investasi yang telah dikeluarkan akan bertambah nilainya seiring dengan waktu. Akibatnya dapat mempengaruhi sampai ke masalah penentuan tarif yang ideal. Pemanfaatan secara nasional yang dimaksud dapat meliputi antara lain gerakan peningkatan e-literacy, sampai penetrasi aplikasi seperti e-education, e-health, e-govt dan lainnya, masuk sampai ke pelosok. Termasuk di wilayah yang belum menjadi prioritas pembangunan, alias tertinggal. Kesadaran TIK di seluruh pelosok negeri harus dibangun. Dari Pemerintah Daerah, investor sampai UKM sudah waktunya segera mengambil peran. Patut ditunggu munculnya program berikut dari Pemerintah yang menggalang kesiapan segenap lapisan masyarakat untuk ikut berperan serta. |









